Perkenalkan, namaku Carter Sanjaya, Umur 27 tahun, Pria keturunan Chinese, badan atletis dengan tinggi 180cm dan warna kulit putih kas Chinese (Jarang terkena matahari). Nama dan alamat sengaja ku samarkan, namun pribadi dalam cerita ini adalah benar adanya.
Cerita yang hanya sebatas kayalan yang memang menjadi obsesiku berfantasi. Di-usiaku yang telah menginjak 27 ini, karirku termasuk sukses, dengan penghasilan yang kuterima lebih dari cukup untuk biaya kehidupanku dan cukup juga untuk tabungan masa depan.
Berhubung merupakan anak perantauan yang sudah tinggal di Jakarta selama lebih dari 1 dekade, muncul keinginanku untuk memiliki rumah tempat tinggal sendiri daripada tinggal di kost-kostan. Namun apadaya, dengan mempertimbangkan lokasi dan kemacetan yang makin hari makin parah di Jakarta, akhirnya kuputuskan saja untuk menyewa apartemen yang cukup dekat dengan tempat kerjaku, hitung-hitung hemat ongkos BBM bolak balik kantor dan untuk menghemat waktu yang terbuang.
Bulan-bulan awal tinggal sendirian di apartemen membuatku kecapean, dimana selain sering harus berkerja hingga larut malam, gw masih harus mengurusi segala kerjaan rumah tangga sendirian. Hingga suatu hari saya kolaps karena kecapean dan masuk rumah sakit selama hampir seminggu.
Pikir punya pikir, akhirnya kuputuskan untuk menyewa seorang pembantu rumah tangga dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga. Setelah sembuh, akhirnya kudatangi salah satu agen penyalur pembantu di Jakarta, dan akhirnya diperkenalkan dengan beberapa calon pembatu. Setelah bertemu dengan beberapa calon, akhirnya pilihan kujatuhkan pada seorang wanita setengah baya (sekitar 30 tahunan).
Belum genap 1 minggu berkerja, beliau pamit untuk pulang ke kampung dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan. Sebagai gantinya, saya ditawarkan penggantinya seorang wanita setengah baya, namanya Mbak Yatun. Dijelaskan bahwa ibu yatun ini merupakan Janda beranak 2. Akhirnya kuterima tawarannya dan saya telp untuk menanyakan hal-hal umum kepada Ibu Yatun. Dari pembicaraan yang singkat tersebut, kunilai Mbak Yatun orangnya lumayan sopan, dan akhirnya kuterima saja tanpa menanyakan lebih lanjut.
Beberapa hari kemudian di hari sabtu, saya bertemu dengan Mbak yatun di tempat yang dijanjikan. Mbak Yatun menggunakan kaos ketat dan celana pendek diatas lutut, kalau dibilang hot pants sebenarnya tidak juga, namun cukup untuk menampilkan pahanya yang hitam mulus. Mbak yatun berperawakan biasa saja dan cenderung tidak cantik, berkulit agak hitam dengan tinggi badan sekitar 165-170cm. Namun ntah kenapa, hal tersebut malah membuatku berdebar-debar dibuatnya, disamping dadanya yang menurutku cukup besar dengan pantat yang rada mancung.
Menyadari saya sempat curi-curi pandang melihat ke arah dadanya, Mbak Yatun hanya tersenyum sopan ke arah saya dan pembicaraan dilanjutkan sebagaimana mestinya. Sempat saya merasa malu juga, dihadapan seorang wanita dewasa, jujur membuatku bertekuk lutut padanya walaupun hanya seorang pembantu. Untuk menjaga wibawa, saya berpura-pura tidak terjadi apa-apa walaupun adek saya sudah penuh sesak dibawah sana. Dari pembicaraan tersebut, kuketahui bahwa Mbak Yatun memiliki 2 anak, seorang anak cow berusia 20 tahun yang juga menjadi TKI di negeri Jiran dan seorang anak yang masih duduk di kelas 1 SMP (belakan baru diketahui kalau anak kedua bukan anak dari suaminya, sampai sekarang tidak diketahui siapa ayahnya itu). Mbak Yatun sendiri berusia 38 tahun dan telah ditinggal oleh suaminya lebih dari belasan tahun (sudah lupa ngakunya).
Singkat kata, akhirnya kuterima saja dan mulai besoknya Mbak Yatun resmi berkerja di tempatku. Dari penilaianku, Mbak Yatun orangnya sangat rajin dan sopan kalau bicara. Namun satu hal yang membuatku bertekuk lutut adalah sikap kedewasaannya. Sekedar gambaran, apartemen yang ku sewa tidak besar dan hanya memiliki 1 kamar tidur (maklum tinggal sendirian), karena merasa tidak enak membiarkan Mbak Yatun tidur di ruang tamu, akhirnya kutawarin saja untuk tidur di kamar dngan kubelikan lagi 1 kasur, sehingga kami sama-sama tidur di 1 kamar dengan kasur yang berbeda.
Sudah merupakan kebiasaanku kalau bangun pagi adikku bangun sendiri, celakanya lagi, kebiasaanku tidur/ dirumah hanya menggunakan celana boxer membuat adikku berdiri tegak dipagi hari tanpa kusadari. Selain itu, saat dirumah, Mbak Yatun paling senang hanya menggunakan celana pendek (semi hot pants) dan kaos ketat yang tampaknya tidak mampu menutupi dadanya yang besar itu, yang membuatku panas dingin melihatnya.
Suatu hari, seperti biasa, mbak yatun meninggalkan kamar mandi hanya menggunakan celana pendek longgar dan kaos, Adekku langsung keras melihatnya, Mbak Yatun: “Aduh si koko kok adiknya naik lagi, kan mbak masih pake baju.”
Mendengar pertanyaan seperti ini, malu banget rasanya dan aku berpikir apa besok saya kenakan saja celana dalam kalau dirumah? Sampai suatu hari, saat aku pulang kerja, saat membuka pintu, kulihat keadaan rumah sangat sepi, dimana kamar mandi dalam keadaan tertutup dan lampu menyala, akhirnya kuputuskan untuk masuk ke kamar tidur. Saat membuka pintu kamar tidur yang tidak terkunci, ternyata mbak yatun bugil tidak menggunakan apa-apa sambil menyetrika. Sempat kaget juga, kulihat mbak yatun sempat menoleh ke saya dan tersenyum, sempat saya terbengong melihat bentuk tubuhnya yang sudah agak berlemak di bagian perutnya dengan warna kulit hitam coklat, adik saya langsung terbangun. Setelah itu, Mbak yatun: “maaf ko, saya tidak sadar koko sudah pulang” sambil tersenyum.
Pikiranku menjadi kacau, antara diam di tempat saja atau langsung keluar kamar. Melihatku terbengong, Mbak yatun dengan santainya sambil tersenyum berdiri (kondisi bugil) dan mencari pakaian didalam lemari, kemudian dengan santainya mengenakan pakaian di depanku dengan santai seolah-olah saya tidak ada disitu. Selesai mengenakan pakaian, mbak yatun tersenyum padaku dan kembali melanjutkan kerjaannya menyetrikan pakaian dengan gw terbengong di depan pintu. Akhirnya kesunyian terpecah dengan pertanyaan mbak yatun: “koko kenapa terbengong di depan pintu, ac nya kan nyala, sayang listriknya”. Melihatku masih terbengong, mbak yatun menanyakan lagi apakah saya tidak panas dengan pakaian kerja dan celana panjang, dan mengambil boxer kemudian berjalan kearahku. Mbak yatun kemudian melihatku tersenyum sambil membuka tali pinggangku dan kemudian melorotkan celana beserta celana dalamku. Otomatis gw bugil dengan kontol tengang 200% terpampang di depan matanya.
Mbak yatun, dengan sikap kedewasaannya menanyakan kepadaku apakah tidak sakit kontolnya yang sudah menegang terpepet celana dalam. Dengan lugunya, gw menjawab tidak, mbak yatun kemudian memakaikan celana boxerku dan aku mengikuti saja kemauannya bagaikan sapi dicucuk hidungnya. Setelah itu tidak terjadi apa-apa sampai keesokan harinya, tepatnya di hari sabtu, mbak yatun membangunkanku dan menjelaskan sarapan sudah dibelikan dengan uang yang saya berikan. Mbak yatun kemudian berpamitan untuk mandi.
Setelah sarapan, sayapun bersantai di kamar sambil browsing, sampai tiba-tiba pintu kamar terbuka dan mbak yatun masuk dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi badannya. Melihat saya, mbak yatun pun kembali tersenyum dengan kedewasaannya yang sangat memikat. Melihat saya yang terbengong, mbak yatun: “ko, kok bengong lagi liatin saya? Kontolnya tegang lagi ya?” Mbak yatun kembali mendekati saya dan menyakan “kok bengong aja melototin mbak, liatin apa? Kok kontolnya tegang banget sih, mau masuk ya ke sini?” sambil nunjukin kearah memeknya yang masih tertutup handuk. Dengan culunnya, saya menjawab “iya”, sambil kemudian tangan mbak yatun mengelus-elus kontolku dengan muka tersenyum, mbak yatun: “kasian ya kontolnya, naik turun terus, harus diturunin nih dengan ini” sambil menunjuk kearah memeknya.
Mbak yatun, dengan elegannya, menuntun tanganku ke arah dadanya, mbak yatun: “coba diremas ko”, saya yang terbegong kemudian menuruti kemauannya, dan Mbak Yatun tidak mau kalah dengan terus mengelus-elus kontolku yang sudah tegang 200%. Tidak lama kemudian, mbak yatun yang masih mengenakan haduk melepaskan celanaku dan bajuku, akupun telanjang bulat dan terlentang. Kemudian, mbak yatun menciumi bibirku, yang awalnya pasif, kemudian mulai membalas ciumannya dengan mesra. Mbak yatun kemudian memintaku untuk menelan liurnya, tidak jijik, hal tersebut malah membuat nafsuku semakin memuncak. Setelah acara saling tuker liur, mbak yatun berdiri dan kemudian melepaskan handuknya dan telanjang bulat. Melihat itu, nafsunya semakin memuncak, dimana wanita setengah baya, dada menonjol, dewasa, dengan kulit agak hitam kecoklatan (saya paling menyukai wanita berkulit hitam) berdiri telanjang di depan saya, yang kemudian langsung duduk diatas wajahku.
Dengan sangat berwibaya, mbak yatun memintaku untuk menjilati memeknya. Mencium bau memeknya yang khas (tidak bau, bau sabun), langsung ku jilatin dengan buasnya. Sebagai gambaran, kemaluan mbak yatun tidak banyak bulunya, dan hanya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Mendapat perlakuanku, mbak yatun mendesah: “ssttttt….aaa….trus ko….naikin dikit, bagian kacangnya….stttt….lidahnya masukin lagi…” mendengar desahannya membuatku semakin buas menjilatin memeknya. Mendapat perlakuanku, mbak yatun: “sstttt….ahhhh…trus koo….enakk bgtttt…” Mbak yatun kemudian berdiri dan menjilati kontolku, dan bertanya:
Mbak Yatun: “ko, kok sudah ganteng, mapan, masih belum punya istri? Gk kasian kontolnya naik turun terus?? memangnya tidak pingin punya anak?”
Gw: “Tidak ada yang mau dengan saya kali ya”
Mbak yatun: “Ah masa sih, mau punya anak gk? Jawab “ya” gitu”
Gw: “Ya mau…”
Mbak yatun: “Beneran? sini aku bantuin…’
Mbak Yatun kemudian naik ke atas dan mengarahkan kontolku kearah memeknya, di elus-eluskan dan mengatakan “kalau koko memang pingin punya anak, berusaha donk” pantat sayapun mulai saya naik-naikkan supaya kontolku bisa masuk, namun tergelincir. Melihat tingkahku, mbak yatun dengan sangat berwibawa mengarahkan kontolku kearah memeknya dan mengatakan “kasian kontolnya…”, diturunkan memeknya dengan perlahan-lahan dan mulai melahap kontolku. Rasanya, hangat hangat basah, seperti naik ke surga. Mbak yatun kemudian menaik turunkan pantatnya dengan perlahan-lahan, dan berhenti sekejap, dan kemudian menunduk dan kembali meludahi mulutku, sayapun menelan air liurnya dan kamipun berciuman dengan mesra. Sambil menatapku tajam, Mbak yatun menggunakan jurus empot ayam, kontolku serasa di jepit dan disedot disedot, sungguh luar biasa.
Tidak lama kemudian, mbak yatun kemudian naik turun diatas kontolku dan mulai bergumam tidak jelas “ssstttt….aaaaaa…sssttt….pengen pejunya ko….sstttt ahhhh….” Kurang lebih 15 menit diatas, mbak yatum meminta berganti posisi menjadi doggi. Sambil nungging, mbak yatun menarik kontolku dan diarahkan kearah memeknya dan memintaku untuk memasukkannya. Mbak yatun “ssstttt….masukin ko….genjot trus ko, biar enakkk…aaaa….ssssttt…enak ko…..yang kenceng ko….” Kurang lebih 10 menit, posisi berganti lagi. Kali ini, mbak yatun terbaring dan saya diatas sambil ku genjotin, mbak yatun: “aaaa…uhhh…ahhh… yaa koko, pejunya ko, pengen pejuu, didalam ko…ahhhh…sstttt….enak ko…pengen disemprot peju ko…didalam ya ko….” Mendengar desahannya, goyanganku menjadi semakin kencang, mbak yatun “ya kooo..trus ko…entotin trus ko….pejunya kooo…ahhhh…sttttt”, akhirnya, pertahananku hampir jebol, tiba tiba, kaki mbak yatun di lilitkan di pinggangku dan menariknya, akibatnya kontolku menjadi makin dalam terbenam di dalam kehangatan lubang memeknya, mbak yatun ”ayo terus ko….pejunya kooo….saya sudah hamper sampaii kooo, bareng kooo…” mendengar itu, makin saya genjot kencang, mbak yatun pun berteriak keras, otot vaginanya bertambah kencang, dan tiba tida menjadi banjir, akhirnya pertahananku runtuh, akhirnya kusemprotkan spermaku ke dalam memeknya sambil ku peluk kencang mbak yatun. Sambil memelukku juga, mbak yatun: “hangett koo….enak kok…pejunya hanget…”.
Akhirnya kami berduapun lemas sambil berpelukan, mbak yatun melarangku untuk mencabut kontolku dari memeknya, “biarkan aja lemes didalam, biar pejunya tidak keluar-keluar”. Tidak lama setelah itu, kami berduapun tertidur pulas.
Siangnya kami bangun dan mandi bersama, mbak yatun memintaku untuk menyabuninya, dan dia juga mulai meraba-raba kontolku. Tidak lama kemudian, kontolku kembali berdiri, dengan gaya nungging, kutancapkan kembali kontolku ke lubang memeknya. Mbak yatun “Aduhhh kooo, enakkk ko, entot trusss ko…sshhhh….yaaaa…sshhh…pejuuu koo…sstttt”. Berhubung luas kamar mandi yang tidak begitu besar, akhirnya kami hanya bisa melakukan 1 gaya sambil diguyur air shower hangat. Mbak yatun “ayoo ko, enak, truusss, didalamm aja…ahhh….sttt…uhhh….yaa…yaaa…enakkkk…”, tidak lama kemudian, tumpahlah spermaku didalam memeknya untuk kedua kali.
Setelah itu, mbak yatun memintaku untuk membersihkan badannya dengan menyabuninya, dan kemudian badanku juga disabuni oleh mbak yatun, kontolku kembali tegang setelah diremas-remas, namun tidak terjadi apa-apa dan setelah itu kamipun keluar. Setelah itu, mbak yatun membuatkan minuman hangat, isinya berupa campuran susu, madu, telor, dan jahee (STMJ), katanya untuk menambah gairahku. Akhirnya minuman itu menjadi menuku sehari-hari untuk pagi dan malamnya.
Berlanjut...
e-mail: blue.ivy.987@gmail.com
source: GeOl.biz